Beranda Djadja Subagdja

Yuk kita bebenah!

Nasib Industri Pesawat Terbang Kita

Posted by djadjasubagdja on October 26, 2007

Pagi tadi sambil sarapan saya menyimak berita di teve bahwa MA membatalkan putusan pailit PT DI. Dalam pemberitaan juga diwartakan bahwa beberapa karyawan PT DI akan melakukan sujud syukur karena status perusahaan tempat mereka mencari nafkah sudah jelas lagi statusnya, sebagaimana harapan mereka.

Terlepas dari pro-kontra pendirian PT DI dan masalah pesangon mantan karyawan yang masih menggantung (yang wajib segera diselesaikan), ijinkan saya, dengan segala kerendahan hati dan minimnya pengetahuan saya pribadi, untuk melihat PT DI ini dari sisi lain. Yakni sisi yang lebih dekat kepada hal-hal yang saya pandang sebagai sesuatu yang cukup strategis.

Kenyataannya, setuju atau tidak setuju, PT DI sudah berdiri dan bahkan ketika namanya masih PT Nurtanio, lantas kemudian menjadi PT IPTN, selalu menjadi kebanggaan bagi kita. Saya sendiri sempat menikmati keterkejutan beberapa kawan mancanegara ketika saya ceritakan kepada mereka bahwa kita memiliki sebuah industri pesawat terbang. Ini terjadi di sebuah asrama kampus di sebuah universitas di Amerika Serikat sekitar musim gugur tahun ’96.

Kenyataan lainnya ialah kita telah sekian lama menginvestasikan sejumlah sumber daya dan sumber dana di industri pesawat terbang ini. Entah telah berapa ratus sarjana yang telah kita didik dan latih untuk keperluan pengembangan industri pesawat terbang ini. Belum lagi investasi barang bergerak dan tidak bergerak lainnya.

Hal lain yang perlu dipertimbangkan pihak-pihak yang berwenang dalam menentukan dibubarkan atau tidaknya PT DI ini adalah kondisi eksternal kita, atau lebih tepatnya kondisi industri di Asia (non-Jepang). Saat ini industri elektronika sudah dipegang oleh Korea, Taiwan, dan Malaysia (sebagai penghasil komponen semikonduktor yang banyak dipakai oleh produk-produk elektronik). Industri otomotif roda empat sudah menjadi monopoli Korea, Malaysia, dan RRC. Sementara yang roda duanya sudah dipegang RRC dan India. Industri perangkat lunak teknologi informatika sudah sejak awal dirajai India. Sementara itu juga, Korea sudah dikenal sebagai pembuat super tanker dan kapal laut jenis lainnya. Nah, satu-satunya yang tersisa adalah industri pesawat terbang!

Barangkali, sejak sebelum menjadi Menristek, pak Habibie sudah melihat hal ini bakal terjadi. Barangkali pula, beliau sudah memperkirakan di awal abad 21 ini yang bakal lebih ramai adalah penerbangan jarak pendek dan menengah yang memerlukan pesawat ringan dan pesawat berbadan sedang. Makanya IPTN (waktu itu) mulai merencanakan pembuatan N250 dan N2130 (maaf kalau salah kodenya) sebagai produk masa depannya. Kalau tidak salah, N250 itu merupakan pesawat berbaling-baling yang berkapasitas angkut 50 penumpang, sementara N2130 merupakan pesawat jet berbadan sedang yang berkapasitas 130 tempat duduk. Nah, sekarang sebentar kita amat-amati, pesawat berkapasitas berapa kursi yang dipakai oleh maskapai-maskapai penerbangan nasional yang banyak muncul belakangan ini? Rasanya tidak salah kalau saya nilai “ramalan” pak Habibie tentang kebutuhan jenis pesawat berbadan sedang ini, terbukti benar.

Sekarang memang sudah terlanjur kita memperlambat laju pengembangan industri pesawat terbang, tapi ya jangan sampai benar-benar menghentikannya lah. Saya kira kita belum lupa bahwa di tahun 70-an kita sudah memulai pembangunan industri kendaraan roda empat. Pada waktu itu, kalau tidak salah, Pemerintah mendirikan BUMN yang bernama PT Gaya Motor di sekitar Sunter. Kalau tidak salah, pendirian perusahaan tersebut untuk mengambangkan industri otomotif dalam negri. Namun demikian, kita bisa lihat sendiri, meski saya tidak memungkiri prestasi komponen lokal kita di industri otomotif CKD, mana mobil produk kita? Mana mobil produk kita yang benar-benar punya kita? Bukan sekadar meningkatkan kandungan komponen lokal di mobil merek asing yang dirakit di sini. Mana? Kita malah ketinggalan dari Malaysia yang punya Proton, meski itu juga katanya bermesinkan Mitsubishi.

Kenyataan-kenyataan itulah yang saya maksudkan, yang mestinya membuat Pemerintah tergerak untuk kembali menghidupkan industri pesawat terbang nasional. Menurut saya, melihat dari beberapa kawan yang dulu dikirim oleh IPTN dan BPPT untuk belajar ke luar negri, insinyur industri pesawat terbang kita pastilah handal. Dulu juga IPTN dipercaya oleh General Dynamic untuk membuat komponen F-16 (sebelum akhirnya dihentikan karena hal politis). Pesawat SN-235 dan beberapa helikopter IPTN juga dulu banyak dibeli oleh konsumen luar negri. Pastilah para insinyur kita cukup handal. Namun yang menjadi persoalan adalah seingat saya, belum ada praktisi manajemen dan pemasaran handal sekaliber pak Cacuk atau pak Tanri Abeng yang diturunkan ke PT DI beberapa tahun lalu di saat awal-awal krisis. Tenaga ahli sekaliber mereka sangat diperlukan kehadirannya di sana mengingat industri memiliki tiga pilar utama, yakni teknologi, manajemen, dan pemasaran.

Sekarang ini kondisi PT DI sudah seperti yang kita lihat dan dengar di pemberitaan-pemberitaan. Dengan kata lain, barangkali sedang di gigi dua atau jalan pelan-pelan, karena kita belum mendengar berita peluncuran pesawat baru PT DI. Namun, belum terlambat untuk memperbaiki kinerjanya sehingga kita bisa menyaksikan uji terbang N250 atau N2130 atau pesawat tipe apapun yang merupakan produk terbarunya. Hanya saja, kalau mengandalkan mekanisme konvensional untuk membangkitkan industri pesawat terbang nasional ini rasanya entah kapan bisa bangkit kembali, jangan-jangan kita sudah ketinggalan Vietnam. Untuk itu diperlukan suatu prakarsa Kepemimpinan Nasional untuk mewujudkan hal ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: