Beranda Djadja Subagdja

Yuk kita bebenah!

Bermigrasinya Para Cendekiawan

Posted by djadjasubagdja on October 23, 2007

Beberapa hari setelah Lebaran kemarin seorang sepupu istri saya yang kebetulan bermukim di Malaysia (bekerja di KBRI) datang ke tempat tinggal kami. Setelah beberapa jam puas ngobrol ngalor ngidul dengan istri saya (ya biasa lah kalau ibu-ibu saling ketemu, apa lagi sudah lama sekali tidak bertemu), lalu mereka pindah ke meja makan, sekadar menikmati mangga harum manis dengan saya dan anak-anak sambil terus mengobrol seolah tidak pernah kehabisan topik.

Barangkali untuk menghormati saya, topik obrolan disesuaikan dengan apa yang juga saya sukai, yakni ngomongin sepupu lain yang lagi kuliah S2 di Malaysia. Awalnya yang diobrolin penampilan si sepupu yang waktu datang ke KBRI sempat mengundang perhatian orang KBRI. Ya pastilah orang-orang KBRI pada melirik karena dia orangnya cantik. Tapi kemudian, barangkali karena ada saya tadi, arah pembicaraan berbelok ke prestasi akademik si sepupu yang lagi kuliah tadi. Saya tidak heran kalau si sepupu ini prestasinya baik, karena saya tahu sejak SMA pun sudah kelihatan kepintarannya.

Hal yang kemudian menjadi perhatian saya adalah kelanjutan cerita si sepupu pertama (yang bekerja di KBRI) bahwa wajar kalau mahasiswa Indonesia di Malaysia kebanyakan menjadi yang terbaik karena kebanyakan orang-orang Melayu yang pintar pada ngelanjutin kuliahnya di luar negri. “Merekalah yang menjadi motor pembangunan di Malaysia,” demikian imbuh si sepupu.

Terus terang, ada perasaan cemburu kepada kaum cerdik pandai di negri jiran ini. Saya yakin, jumlah orang pandai di Negri kita juga tidak kurang banyak. Bahkan yang kemudian disekolahkan hingga mendapatkan titel Doktor atau Master dari Amerika, Australia, Jepang, dan Inggris, jumlahnya cukup banyak, beberapa dari mereka adalah teman-teman dan sanak keluarga saya yang bekerja sebagai dosen atau PNS di beberapa lembaga penelitian dan departemen-departemen. Bahkan kalau tidak salah, kita sudah lebih dulu melakukan program pengiriman pelajar ke luar negri ini dibandingkan dengan negri jiran ini. Ketika Malaysia masih mengimpor guru-guru SMA kita (beberapa orang guru SMA saya pernah diminta bantuan mengajar di Malaysia), rasanya kita sudah menyekolahkan para sarjana kita ke program-program S2 dan S3 di beberapa perguruan tinggi unggulan di Amerika seperti di UC-Berkeley, Syracus, MIT, dan yang sekelasnya. Kenapa mereka tidak menjadi motor pembangunan kita yang kehandalannya sama dengan para ilmuwan Malaysia yang menjadi motor penggerak pembangunan di sana?

Apakah para ilmuwan kita lantas tidur nyenyak begitu kebali lagi ke tanah air? Memang sih, kalau baru kembali dari berkunjung lama ke Amerika, biasanya kita kena jet-lag, tiba-tiba ngantuk sekali di siang hari dan merasa segar bugar di malam hari. Namun hal itu paling juga berlangsung selama 2 – 3 hari, setelah itu jam biologis tubuh akan normal kembali. Ya, iya lah, pasti bukan karena jet lag. Apakah karena cendikiawan Malaysia lebih pandai dari cendikiawan kita?

Tentunya tidak demikian. Cendikiawan kita pun berprestasi tinggi di luar negri. Seorang teman yang kuliah teknologi komputer di Wolongong, Australia, pernah bercerita kalau selama dia kuliah di sana, biasanya yang masuk 10 besar itu kebanyakan orang-orang Asia, termasuk orang kita. Begitu juga dengan teman saya yang mengambil S3 teknologi pangan di University of Maine di Amerika, setahu saya dia termasuk siswa yang “kepake” oleh pembimbingnya (artinya: kalau si pembinmbing dapat proyek, dia selalu dilibatkan, artinya keilmuannya diakui). Dan masih banyak lagi seabreg kisah sukses siswa kita di luar negri, terutama mereka-mereka yang mengambil bidang-bidang eksakta. Nah, lantas kenapa kita begitu terpuruk?

Tentunya bukan bidang saya dan juga bukan kewenangan saya untuk menganalisis mengapa hal ini terjadi. Namun tiba-tiba saya teringat sebuah kasus yang terjadi sekitar tahun 90-an, di mana ada seorang doktor yang baru saja lulus dari pendidikan di luar negri yang bekerja di sebuah instansi Pemerintah yang mengirimnya belajar ke luar negri, tapi kemudian dia mengajukan pengunduran diri karena merasa keilmuannya tidak dimanfaatkan oleh instansi tersebut. Gosipnya, selama beberapa bulan setelah kepulangannya dari kuliah di luar negri, dia hanya diberi tugas menginstal sistem operasi di beberapa PC yang ada di kantornya. Ya, wajarlah dia mau mengundurkan diri, ilmuwan mana yang tahan ketika dia masih bersemangat melakukan sesuatu buat negrinya, eh malah diberi pekerjaan yang cukup dikerjakan oleh lulusan D1 saja!

Itu memang kasus, tapi bukan tidak mungkin hal yang mendekati atau mirip kasus tadi terjadi di instansi-instansi lainnya. Belum lagi kalau kita perhitungkan berapa banyak sarjana kita yang akhirnya bekerja di luar negri karena di dalam negri tidak ada perusahaan atau instansi yang bisa mengakomodasi keahliannya, atau katakanlah tidak bisa mengapresiasi dirinya sesuasi tingkat keterampilannya.

Coba saja anda tanya sendiri kepada kerabat atau taman yang pernah bekerja di PT DI, berapa banyak tenaga ahli penerbangan kita yang akhirnya bekerja di Boeing, padahal dulunya kita yang menyekolahkan mereka, tapi kita sendiri yang tidak mampu menampung mereka. Seorang teman yang bermukim di daerah Queens, New York, punya seorang kakak ipar yang setelah di-phk dari bank tempatnya bekerja di Jakarta di jaman krismon, lantas kuliah MBA di New York, setelah tamat dia memilih menjadi sopir limosin di New York karena di Jakarta tidak ada satu bank pun yang menurut dia menghargai MBA-nya dengan gaji yang pantas. Seorang teman kuliah, yang IP-nya di atas 3 (di jurusan saya sulit sekali untuk mendapatkan IP di atas 3), akhirnya hijrah ke Toronto dan bekerja serabutan di sana karena tidak melihat masa depan yang cerah dari karirnya. Sang teman ini, menurut penuturannya, selesai kuliah lantas melamar bekerja di sebuah lembaga penelitian, tapi tidak diterima, entah apa alasannya. Akhirnya dia berkarir di dunia penerbitan buku pelajaran. Saya tahu betul potensi sang teman ini, tidak heran kalau dia tidak betah berkarir di dunia penerbitan buku, karena memang jiwanya adalah jiwa peneliti. Namun karena Negara tidak menampungnya, ya barangkali akhirnya dia berfikir, mendingan jadi imigran di negara maju saja, siapa tahu masa depan anaknya lebih baik di sana.

Kesimpulannya, kalau Negri ini tidak memberi tempat yang cukup baik untuk kaum cerdik cendekia, maka para doktor dan master yang telah kita sekolahkan ke luar negri hanya akan menjadi hiasan di instansi tempat mereka bekerja tanpa bisa memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan, karena pemikiran-pemikiran brilian mereka terkungkung oleh hal-hal nonteknis dan birokrasi. Kalau negri ini tidak merencanakan pembangunannya secara terintegrasi dengan pengembangan institusi pendidikan, maka akan terjadi surplus tenaga ahli di bidang-bidang tertentu dan kekurangan tenaga ahli di bidang-bidang lainnya, sehingga akhirnya hanya akan memberikan kontribusi pada pemborosan Nasional atau mereka berlarian ke luar negri sementara kita harus mengimpor konsultan asing. Kalau Negri ini juga tidak bisa memberikan imbalan yang layak bagi para ilmuwan dan para guru/dosen, makatidak akan ada lagi semangat untuk menjadi orang pintar di kalangan anak cucu kita.

Jadi, marilah kita kaji ulang sebelum mendirikan puluhan universitas, ratusan fakultas ekonomi, fakultas teknik, fakultas hukum, apakah memang benar keperluan kita sebanyak itu? Atau barangkali kita mesti memperbanyak pendidikan politeknik dan diploma lainnya? Itu semua baru bisa terjawab saat kita memiliki sebuah Rencana Besar Pembangunan yang mengacu kepada potensi Tanah Air kita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: