Beranda Djadja Subagdja

Yuk kita bebenah!

Belajar Setelah Ulangan

Posted by djadjasubagdja on October 3, 2007

“Belajar setelah ulangan” pasti akan terdengar seperti ungkapan konyol, karena, bagaimanapun, belajar itu dilakukan sebelum ulangan atau ujian atau tes, dan hal ini memang sudah menjadi kelaziman bagi kita.

Tapi dulu memang saya sering mempelajari hasil ulangan saya atau ujian saya, inilah yang saya maksudkan. Kalau hal ini, saya kira beberapa dari kita juga sering atau pernah melakukannya. Dan, percaya gak percaya, dulu ketika masih kuliah, saya dapat nilai A untuk mata kuliah Fisika Modern karena belajar dari hasil ujian saya sebelumnya. Ya, anda benar. Itu artinya, saya mengulang mata kuliah itu, setelah sebelumnya mendapat nilai E!

Ada satu lagi mata kuliah yang saya lolosi dengan membahas hasil ujian, yakni mata kuliah Mekanika Lanjut. Dengan kata lain, saya lolos (menurut saya lolos, bukan lulus). Jadi, ceritanya, setelah dua kali dapat E, akhirnya saya dengan sobat saya senasib “menghadap” Pak dosen untuk menanyakan, sebaiknya bagaimana struktur jawaban yang seharusnya, dan alhamdulillah, tahun depannya bisa lolos, setelah dapat D, he he he.

Kata orang bijak, katanya, belajarlah dari kegagalan. Dan memang akhirnya menjadi suatu kebiasaan bagi saya untuk mempelajari hasil ujian, atau kadang-kadang membuka-buka buku teks untuk sekadar “bernostalgia” dengan soal-soal yang saya jawab salah. Kalau belum lulus, seperti saya tadi, ya pasti banyak manfaatnya bila kita mempelajari dari hasil ujian atau tes kita. Namun, kalau kita sudah lulus, apakah akan ada manfaatnya juga kalau kita mempelajari beberapa soal yang kita jawab salah?

Barangkali kalau manfaat langsung sangatlah kecil, apa lagi kalau pekerjaan yang kita geluti jauh dari bidang ilmu yang kita gauli dulu.

Namun tolong jangan distop dulu omongan ngalor ngidul kita ini. Bukankah dari kecil kita sering dinasehati orang tua kita agar kita menuntut ilmu di sekolah? Ingat, menuntut ilmu, bukan mencari nilai. Bukankah dulu orang tua kita berpayah-payah membiayai sekolah kita agar kita bisa menggali ilmu di sana? Jadi, apa salahnya kalau sesekali kita bernostalgia, menerawang ke masa jaman baheula, ketika kita masih berseragam putih-merah atau putih-biru atau putih-abu atau jeans plus kaos oblong. Kita ingat-ingat lagi, misalnya, pelajaran SD. Syarat-syarat sebuah negara itu apa saja sih? Rumus luas lingkaran itu apa sih? Fotosintesis itu gimana sih prosesnya? Negara kita ini ada di posisi lintang dan bujur berapa sih? Perang Diponegoro itu terjadi antara tahun berapa hingga tahun berapa ya? Apa ya artinya prinsip ekonomi itu? Bagaimana ya membedakan kata “di” sebagai awalan dan “di” sebagai kata depan?

Itu semua pelajaran yang kita dapat hingga kelas 6 SD, di mana selama enam tahun kita hampir setiap pagi mesti capek-capek bangun pagi, mandi, sarapan, berpakaian rapi, berpotongan rambut yang terkadang tidak kita sukai. Dan itu terus kita lakoni bertahun-tahun lagi di SMP dan SMA. Artinya, dengan segala “pengorbanan” yang telah kita lakukan selama bertahun-tahun itu, lantas apakah akan kita lupakan begitu saja ilmu yang telah susah-susah kita jejalkan ke otak kita? Mari kita ingat-ingat lagi pelajaran kita dulu, anggap saja buat nebus dosa kita sama orang tua yang sudah capek-capek membiayai kita sekolah, eh kitanya malah malas belajar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: