<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Beranda Djadja Subagdja</title>
	<atom:link href="http://djadjasubagdja.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://djadjasubagdja.wordpress.com</link>
	<description>Yuk kita bebenah!</description>
	<lastBuildDate>Sun, 01 Jan 2012 10:33:08 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='djadjasubagdja.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Beranda Djadja Subagdja</title>
		<link>http://djadjasubagdja.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://djadjasubagdja.wordpress.com/osd.xml" title="Beranda Djadja Subagdja" />
	<atom:link rel='hub' href='http://djadjasubagdja.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>2011 in review</title>
		<link>http://djadjasubagdja.wordpress.com/2012/01/01/2011-in-review/</link>
		<comments>http://djadjasubagdja.wordpress.com/2012/01/01/2011-in-review/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Jan 2012 10:33:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>djadjasubagdja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://djadjasubagdja.wordpress.com/?p=265</guid>
		<description><![CDATA[The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2011 annual report for this blog. Here&#8217;s an excerpt: A San Francisco cable car holds 60 people. This blog was viewed about 1,300 times in 2011. If it were a cable car, it would take about 22 trips to carry that many people. Click here to see the [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=djadjasubagdja.wordpress.com&amp;blog=5600263&amp;post=265&amp;subd=djadjasubagdja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2011 annual report for this blog.</p>
<div style="background:url('/wp-content/mu-plugins/annual-reports/img/emailteaser.jpg') no-repeat center center;height:300px;"></div>
<p>Here&#8217;s an excerpt:</p>
<blockquote><p>A San Francisco cable car holds 60 people. This blog was viewed about <strong>1,300</strong> times in 2011. If it were a cable car, it would take about 22 trips to carry that many people.</p></blockquote>
<p><a href="/2011/annual-report/">Click here to see the complete report.</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/djadjasubagdja.wordpress.com/265/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/djadjasubagdja.wordpress.com/265/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/djadjasubagdja.wordpress.com/265/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/djadjasubagdja.wordpress.com/265/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/djadjasubagdja.wordpress.com/265/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/djadjasubagdja.wordpress.com/265/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/djadjasubagdja.wordpress.com/265/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/djadjasubagdja.wordpress.com/265/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/djadjasubagdja.wordpress.com/265/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/djadjasubagdja.wordpress.com/265/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/djadjasubagdja.wordpress.com/265/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/djadjasubagdja.wordpress.com/265/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/djadjasubagdja.wordpress.com/265/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/djadjasubagdja.wordpress.com/265/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=djadjasubagdja.wordpress.com&amp;blog=5600263&amp;post=265&amp;subd=djadjasubagdja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://djadjasubagdja.wordpress.com/2012/01/01/2011-in-review/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9989e7920179a65d1d8e811de82a39c8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kang Djadja</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KM 90-100 Cipularang: Antara Teknis, Supranatural, dan Pengemudi</title>
		<link>http://djadjasubagdja.wordpress.com/2011/09/10/km-90-100-cipularang-antara-teknis-supranatural-dan-pengemudi/</link>
		<comments>http://djadjasubagdja.wordpress.com/2011/09/10/km-90-100-cipularang-antara-teknis-supranatural-dan-pengemudi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Sep 2011 12:15:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>djadjasubagdja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Iptek]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://djadjasubagdja.wordpress.com/?p=260</guid>
		<description><![CDATA[Sebetulnya, kecelakaan di jalan sering kali terjadi, di manapun di belahan dunia ini. Apa lagi di musim libur. Hal ini tentunya sesuai dengan hukum alam dimana peluang kejadian berbanding lurus dengan peningkatan aktivitas. Demikian pula halnya dengan kecelakaan lalu lintas di Tol Cipularang di ruas KM 90 &#8211; 100, arah dari Bandung ke Jakarta. Frekuensinya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=djadjasubagdja.wordpress.com&amp;blog=5600263&amp;post=260&amp;subd=djadjasubagdja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div>
<div>
<h2><span class="Apple-style-span" style="font-size:13px;font-weight:normal;">Sebetulnya, kecelakaan di jalan sering kali terjadi, di manapun di belahan dunia ini. Apa lagi di musim libur. Hal ini tentunya sesuai dengan hukum alam dimana peluang kejadian berbanding lurus dengan peningkatan aktivitas.</span></h2>
</div>
</div>
</div>
<div>
<div>
<p>Demikian pula halnya dengan kecelakaan lalu lintas di Tol Cipularang di ruas KM 90 &#8211; 100, arah dari Bandung ke Jakarta. Frekuensinya meningkat sebanding dengan peningkatan kendaraan yang melaluinya. Sesuai dengan hukum alam, tepatnya ilmu statistik. Ooooops!! Namun, tentunya hal itu bukan pembenaran. Apa lagi korban jiwa relatif cukup banyak.</p>
<p>Seingat saya, dulu pernah ada rekan saya yang menulis panjang lebar mengenai ruas KM 90-100 beberapa hari setelah pembukaan Tol Cipularang. Teman saya ini bekerja di PT Telkom, tinggal di Jakarta, jadi sering melakukan perjalanan ke Kantor Pusat PT Telkom di Bandung. Rekan saya ini juga seorang sarjana fisika, yang mengerti mengenai gaya sentrifugal/sentripetal (terutama yang dialami kendaraan saat melaju di tikungan).</p>
<p>Dalam tulisan teman saya itu, dia menekankan pada hubungan antara sentripetal/sentrifugal yang muncul di kendaraan saat menikung dengan konstruksi jalan di ruas tersebut. Kemudian beberapa pekan setelah dikomersilkan, beberapa bagian Tol Cipularang mengalami longsor alias ambruk. Kemudian media mengkritisi konstruksi jalan tersebut. Struktur jalan dalam hubungannya dengan sentrifugal/sentripetal tadi juga muncul sedikit. Beberapa pakar mengkaitkan disharmoni antara usulan konsultan dan pelaksanaan pengerjaan.</p>
<p>Namun kemudian polemik di atas berhenti seiring dengan perbaikan dan penyempurnaan. Aspal pun mulai dilapiskan di atas badan jalan yang berupa beton. Pengguna merasa lebih nyaman dan puas. Perbincangan mengenai konstruksi jalan tol ini berangsur-angsur hilang di media. Fenomena baru malah muncul, yakni menjamurnya bisnis jasa travel Bandung-Jakarta yang memanfaatkan minibis.</p>
<p>Di Bulan September 2011 ini kembali tol Cipularang menjadi primadona media. Hampir semua media mengkritisi struktur ruas antara KM 90 hingga KM 100 jalan Tol Cipularang. Banyaknya kecelakaan di ruas jalan tersebut menimbulkan asumsi bahwa strukturnya tidak benar. Hal ini kemudian diluruskan oleh pakar dari ITB. Semoga apa yang disampaikannya benar.</p>
<p>Pemberitaan di media cetak dan perbincangan di televisi mengenai ruas ini tetap saja marak. Malah kini mengarah ke hal-hal yang bersifat supranatural. Media menyajikan berita dan artikel yang berkaitan dengan ruas jalan ini dari sisi struktur jalan, kelaikan kendaraan, kecergasan pengemudi, hingga ke penampakan-penampakan yang sering dilihat para pengemudi bis dan travel.</p>
<p>Tiba-tiba saya jadi ingat cerita almarhum sepupu saya yang berprofesi sebagai pengemudi travel. Almarhum bercerita bahwa banyak orang yang meyakini di sekitar ruas jalan tersebut ada hal-hal yang bersifat supranatural. Entah benar atau tidak, tapi katanya ketika jalan tersebut tengah dibangun, penduduk setempat menyarankan diadakan ruwatan di sekitar ruas tersebut. Ruwatan kemudian diselenggarakan dengan pementasan wayang semalam suntuk. Penontonnya hanya sedikit, tapi suasananya sangat &#8220;ramai&#8221;, katanya. Entahlah.</p>
<p>Namun kita juga tidak boleh mengingkari fakta lainnya dari beberapa kecelakaan maut di ruas jalan tersebut, yakni pengemudi yang mengantuk. Setidaknya dua dari kecelakaan-kecelakaan yang terjadi di ruas tersebut pada saat masa mudik Lebaran, pengemudinya mengaku mengantuk. Fakta lainnya adalah kelebihan penumpang pada beberapa kendaraan yang mengalami kecelakaan (yang disertai korban jiwa).</p>
<p>Bandung dan Jakarta seperti dua kota yang tidak dapat dipisahkan. Sejak jaman Belanda, ramai orang bepergian dari Jakarta ke Bandung dan sebaliknya. Sebelum Tol Cipularang ada, jalur Bandung &#8211; Jakarta, baik melalui Puncak maupun melalui Purwakarta, selalu ramai. Mobilitas penduduk di kedua kota ini sangat tinggi. Baik untuk pelesir maupun untuk keperluan pekerjaan atau bisnis.</p>
<p>Hal ini menimbulkan konsekuensi pada tingginya pemakaian sarana jalan Tol Cipularang. Apa lagi di saat akhir pekan atau musim liburan (termasuk musim mudik Lebaran). Apakah penyebab kecelakaan maut itu karena kondisi teknis struktur jalan di ruas tersebut, atau karena ada gangguan supranatural, atau karena ketidaklaikan kendaraan, atau karena kelalaian pengemudi? Tidak ada yang bisa menjawab dengan pasti. Kalaupun ada, semua bisa dibalikkan dengan fakta lain bahwa: 1. tidak semua kendaraan yang melintas mengalami kecelakaan, 2. tidak semua kendaraan jenis tertentu mengalami kecelakaan, 3. Tidak semua kendaraan yang bermuatan lebih mengalami kecelakaan, dan 4. tidak semua pengemudi ngantuk/lelah mengalami kecelakaan.</p>
<p>Sebagian dari kita mengatakan bahwa itu semua sudah takdir. Itu benar adanya. Namun hal yang sudah pasti adalah bahwa di ruas jalan tersebut banyak dipasang rambu peringatan dan rambu pembatas kecepatan. Kalau kita sering melintas di ruas ini, kita sendiri juga akan merasakan bahwa kita tidak layak untuk memacu kendaraan kita seperti di ruas-ruas lainnya. Jadi, sekarang ini, yang penting adalah peningkatan kewaspadaan dari para pengemudi.</p>
<p>Pengemudi hendaklah menyiapkan kebugaran dan kecergasan diri. Jangan lupa juga mengontrol kondisi kendaraan. Kemudian berhati-hatilah, TERUTAMA ketika melintas di ruas KM 90-100 Tol Cipularang. Patuhi rambu-rambu yang telah disediakan operator tol. Terakhir, jangan lupa berdoa sebelum memulai perjalanan, memohon perlindungan dari hal-hal nyata dan hal-hal ghaib.</p>
<p>Memang nampak hebat ketika hanya menghabiskan 1,5 jam melintasi jalan tol dari Bandung menuju Jakarta atau sebaliknya. Namun jika hal itu beresiko, maka 2 jam atau 2,5 jam juga oke saja, karena yang telah menempuh 1,5 jam pun tidak pernah mendapat medali atau piala di atas podium juara.</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/djadjasubagdja.wordpress.com/260/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/djadjasubagdja.wordpress.com/260/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/djadjasubagdja.wordpress.com/260/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/djadjasubagdja.wordpress.com/260/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/djadjasubagdja.wordpress.com/260/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/djadjasubagdja.wordpress.com/260/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/djadjasubagdja.wordpress.com/260/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/djadjasubagdja.wordpress.com/260/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/djadjasubagdja.wordpress.com/260/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/djadjasubagdja.wordpress.com/260/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/djadjasubagdja.wordpress.com/260/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/djadjasubagdja.wordpress.com/260/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/djadjasubagdja.wordpress.com/260/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/djadjasubagdja.wordpress.com/260/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=djadjasubagdja.wordpress.com&amp;blog=5600263&amp;post=260&amp;subd=djadjasubagdja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://djadjasubagdja.wordpress.com/2011/09/10/km-90-100-cipularang-antara-teknis-supranatural-dan-pengemudi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9989e7920179a65d1d8e811de82a39c8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kang Djadja</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Antara Salaman, Ketupat, dan Baju Baru</title>
		<link>http://djadjasubagdja.wordpress.com/2011/08/27/antara-salaman-ketupat-dan-baju-baru/</link>
		<comments>http://djadjasubagdja.wordpress.com/2011/08/27/antara-salaman-ketupat-dan-baju-baru/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Aug 2011 05:56:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>djadjasubagdja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://djadjasubagdja.wordpress.com/?p=258</guid>
		<description><![CDATA[Seingat saya, sejak dulu, bagi anak-anak, Lebaran berarti salaman, makan ketupat, kue, kacang, dan baju baru. Salam-salaman memiliki pengertian bersilaturahmi, mulai dari sekadar mengunjungi tetangga dan kerabat, hingga mudik alias pulang kampung.  Hal ini tentunya tidak akan kita dapati di kawasan Timur Tengah yang penduduknya sama-sama merayakan Idul Fitri. Tradisi salaman, ketupat, kue, dan baju [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=djadjasubagdja.wordpress.com&amp;blog=5600263&amp;post=258&amp;subd=djadjasubagdja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div>
<div>
<h2><span class="Apple-style-span" style="font-size:13px;font-weight:normal;">Seingat saya, sejak dulu, bagi anak-anak, Lebaran berarti salaman, makan ketupat, kue, kacang, dan baju baru. Salam-salaman memiliki pengertian bersilaturahmi, mulai dari sekadar mengunjungi tetangga dan kerabat, hingga mudik alias pulang kampung.</span></h2>
</div>
</div>
</div>
<div>
<div>
<p> Hal ini tentunya tidak akan kita dapati di kawasan Timur Tengah yang penduduknya sama-sama merayakan Idul Fitri. Tradisi salaman, ketupat, kue, dan baju baru hanya terdapat di Indonesia, Malaysia dan Brunei. Barangkali juga ada tradisi semacam ini di Pakistan atau India, tapi rasanya Idul Fitri di negara lain tidak seheboh di Indonesia, Malaysia, dan Brunei.</p>
<p>Baikkah tradisi ini? Para ulama, ustadz, dan da&#8217;i selalu mengingatkan esensi Idul Fitri sebetulnya sederhana, yakni menyetop puasa dan melaksanakan shalat Idul Fitri berjamaah. Menyetop berpuasa artinya harus makan, dan memang di hari tersebut diharamkan berpuasa. Dalam melaksanakan shalat Idul fitri berjamaah, seperti shalat berjamaah lainnya, dianjurkan mengenakan pakaian yang terbaik. Itu saja.</p>
<p>Jadi, sebetulnya, kita tidak diperintahkan secara khusus harus bersalam-salaman di Hari Idul Fitri, bahkan sampai harus mudik. Kita juga tidak secara khusus diperintahkan memakai baju baru dan menyantap hidangan istimewa, apa lagi harus ketupat dan kari. Namun, pada kenyataannya, itulah yang dilakukan hampir semua umat muslim di Indonesia, Malaysia, dan Brunei. Benarkah hal ini?</p>
<p>Benar atau tidak, hanya Allah swt yang mengetahuinya. Benar dan tidak juga relatif. Bergantung pada niat dan motivasi, serta pemahaman (ilmu) kita mengenai Idul fitri itu sendiri. Jika kita memang memiliki uang yang cukup untuk menyediakan makanan, bahkan menyiapkan untuk para tamu dan tetangga, mengapa tidak? Jika kita memiliki uang yang cukup untuk membeli pakaian baru, mengapa tidak? Jika memang waktu kita cukup luang untuk pergi mudik, mengapa tidak?</p>
<p>Selama tidak ada niat dalam diri kita untuk memamerkan apapun. Selama tidak ada niat dalam diri kita untuk berpesta pora menikmati segala jenis hidangan. Selama niat kita bahwa mudik itu untuk bersilaturahmi dengan orang tua dan saudara-saudara. Maka sah-sah saja kita mudik, bersalaman keliling kampung atau keliling kota, makan ketupat, menyuguhi tamu dengan aneka kue dan makanan lainnya, dan memakai baju baru. Selama dalam koridor silaturahmi.</p>
<p>Namun tentunya kurang baik jika kita niatkan untuk berhura-hura di hari Lebaran, menyantap hidangan tanpa memperhatikan kapasitas perut, pamer masakan, merasa masakan olahannya adalah yang terlezat, atau pamer baju baru. Kurang baik juga jika kita memaksakan diri membeli baju baru, memaksakan diri belanja beragam makanan, memaksakan diri membuat kue, atau memaksakan diri pergi mudik, padahal kemampuan kita terbatas atau padahal masih ada keperluan lain yang lebih penting. Apa lagi kalau sampai berhutang.</p>
<p>Marilah kita sambut Idul Fitri dengan mengumandangkan Takbir dan menyelesaikan kewajiban-kewajiban kita. Luangkan waktu untuk sholat Idul Fitri berjamaah di pagi hari, karena itu adalah ibadah sunat mu&#8217;akad. Jika memang ada rejeki lebih, bolehlah pergi mudik, bolehlah membeli baju baru, bolehlah menyiapkan makanan agak berlebih untuk menyuguhi tamu yang bersilaturahmi. Landasi semuanya dengan niat ibadah, niatkan karena Allah semata. Namun tetaplah ingat akan esensi atau ibadah pokok dari Idul Fitri, yakni menyuarakan Takbir dan sholat Idul Fitri.</p>
<p><strong><em>(Sebuah nasehat untuk diri sendiri)</em></strong></p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/djadjasubagdja.wordpress.com/258/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/djadjasubagdja.wordpress.com/258/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/djadjasubagdja.wordpress.com/258/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/djadjasubagdja.wordpress.com/258/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/djadjasubagdja.wordpress.com/258/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/djadjasubagdja.wordpress.com/258/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/djadjasubagdja.wordpress.com/258/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/djadjasubagdja.wordpress.com/258/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/djadjasubagdja.wordpress.com/258/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/djadjasubagdja.wordpress.com/258/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/djadjasubagdja.wordpress.com/258/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/djadjasubagdja.wordpress.com/258/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/djadjasubagdja.wordpress.com/258/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/djadjasubagdja.wordpress.com/258/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=djadjasubagdja.wordpress.com&amp;blog=5600263&amp;post=258&amp;subd=djadjasubagdja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://djadjasubagdja.wordpress.com/2011/08/27/antara-salaman-ketupat-dan-baju-baru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9989e7920179a65d1d8e811de82a39c8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kang Djadja</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Si Oleh-oleh Rutin: Ayam Pop!</title>
		<link>http://djadjasubagdja.wordpress.com/2011/07/13/si-oleh-oleh-rutin-ayam-pop/</link>
		<comments>http://djadjasubagdja.wordpress.com/2011/07/13/si-oleh-oleh-rutin-ayam-pop/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Jul 2011 14:35:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>djadjasubagdja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://djadjasubagdja.wordpress.com/?p=254</guid>
		<description><![CDATA[Dari tahun 1976 hingga 1981, Ayah kami ditempatkan di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Kami, anak-anak, dan Ibu tidak turut ke Banjarmasin, karena Ibu bekerja sebagai guru di Bandung. Waktu itu, kondisi Banjarmasin belum seperti sekarang, air bersih dan sayuran segar sulit didapat. Itu juga yang menjadi alasan kedua kenapa kami tidak pindah ke Banjarmasin. Untungnya atasan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=djadjasubagdja.wordpress.com&amp;blog=5600263&amp;post=254&amp;subd=djadjasubagdja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div>
<div>
<h2><span class="Apple-style-span" style="font-weight:normal;font-size:13px;"><a href="http://djadjasubagdja.files.wordpress.com/2011/07/untitledd.jpg"><img class="size-medium wp-image-255 alignleft" title="Bapa" src="http://djadjasubagdja.files.wordpress.com/2011/07/untitledd.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a>Dari tahun 1976 hingga 1981, Ayah kami ditempatkan di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Kami, anak-anak, dan Ibu tidak turut ke Banjarmasin, karena Ibu bekerja sebagai guru di Bandung. Waktu itu, kondisi Banjarmasin belum seperti sekarang, air bersih dan sayuran segar sulit didapat. Itu juga yang menjadi alasan kedua kenapa kami tidak pindah ke Banjarmasin. Untungnya atasan Ayah kami sangat pengertian. Setiap ada rapat di Jakarta, beliau selalu menugaskan ayah kami yang menghadiri rapat. Artinya, sering juga ayah kami bisa berkesempatan pulang ke Bandung.</span></h2>
</div>
</div>
</div>
<div>
<div>
<p> Waktu itu, perjalanan terpraktis dari Jakarta ke Bandung, atau sebaliknya, adalah dengan Taxi 4848. Karena penumpang dijemput dari rumah dan diantar hingga ke tujuan. Mobil yang dipakai 4848 saat itu adalah sedan Holden Kingswood atau Premier, jadi penumpangnya hanya 4 orang, tidak terlalu makan waktu pada penjemputan dan pengantaran. Ketika itu Jakarta belum terlalu macet, dan Bandung belum macet. Khusus untuk rute Bandung-Jakarta atau sebaliknya, tempat istirahat resmi 4848 adalah Restoran Simpang Raya di Puncak.</p>
<p>Jadi, setelah selesai rapat di Jakarta, ayah kami pulang dulu ke Bandung naik Taksi 4848. Demikian pula sebaliknya, ketika harus kembali ke Banjarmasin, maka beliau juga memakai Taksi 4848 ke Bandara Kemayoran, Jakarta. Kelihatannya tidak ada yang istimewa, tapi bagi kami, anak-anaknya, ada yang istimewa. Ketika Taksi 4848 beristirahat di Simpang Raya Puncak, seperti penumpang lainnya tentu saja ayah kami makan. Namun beliau juga tidak lupa memesan beberapa potong ayam pop untuk dibungkus sebagai oleh-oleh. Itulah istimewanya!</p>
<p>Seingat saya, karena kebaikan atasannya tadi, dalam setahun, bisa dua atau tiga kali ayah kami berkesempatan pulang ke Bandung, termasuk pas Lebaran. Itu artinya, dalam setahun, kami bisa dua sampai tiga kali menikmati ayam pop Simpang Raya Puncak sebagai oleh-oleh. Akhirnya ayam pop menjadi makanan favorit saya di rumah makan Minang. Oleh-oleh memang selalu memberi makna dan kesan baik.</p>
<p>Ketika saya sudah berkeluarga, dalam perjalanan dari Bandung ke Jakarta beserta anak-istri dan mertua, kami mampir ke restoran Simpang Raya Puncak. Saya memesan ayam pop, demikian pula istri saya. Sambil makan, ibu mertua saya bercerita bahwa dulu Bapak Mertua (alm) suka mampir di Simpang Raya Puncak sepulang dinas dari Bandung. Ya ampun, saya jadi berfikir, barangkali dulu beliau pernah makan satu restoran dengan ayah kami, lalu sama-sama memesan ayam pop, dibungkus buat anak-anak di rumah. Kemudian yang seorang pulang ke Jakarta, yang seorang lagi pulang ke Bandung. Entahlah &#8230;.</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/djadjasubagdja.wordpress.com/254/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/djadjasubagdja.wordpress.com/254/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/djadjasubagdja.wordpress.com/254/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/djadjasubagdja.wordpress.com/254/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/djadjasubagdja.wordpress.com/254/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/djadjasubagdja.wordpress.com/254/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/djadjasubagdja.wordpress.com/254/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/djadjasubagdja.wordpress.com/254/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/djadjasubagdja.wordpress.com/254/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/djadjasubagdja.wordpress.com/254/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/djadjasubagdja.wordpress.com/254/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/djadjasubagdja.wordpress.com/254/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/djadjasubagdja.wordpress.com/254/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/djadjasubagdja.wordpress.com/254/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=djadjasubagdja.wordpress.com&amp;blog=5600263&amp;post=254&amp;subd=djadjasubagdja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://djadjasubagdja.wordpress.com/2011/07/13/si-oleh-oleh-rutin-ayam-pop/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9989e7920179a65d1d8e811de82a39c8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kang Djadja</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://djadjasubagdja.files.wordpress.com/2011/07/untitledd.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Bapa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jus Terong Penjajah yang Menjajah</title>
		<link>http://djadjasubagdja.wordpress.com/2011/07/11/250/</link>
		<comments>http://djadjasubagdja.wordpress.com/2011/07/11/250/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Jul 2011 09:42:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>djadjasubagdja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://djadjasubagdja.wordpress.com/?p=250</guid>
		<description><![CDATA[Jika anda tertarik dengan menu nasi darah, sosis squid ward, sayur popeye, buah eragon, buah citra, kue doraemon, kue mayang sari, minuman pelayan semenit, jus terong penjajah, atau jus bugs bunny, maka anda harus bergabung dengan sisiwa baru yang sedang mengikuti masa orientasi sekolah. Istilah-istilah kreatif di atas memang terasa lucu dan menantang kecerdasan peserta MOS (dan orang tuanya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=djadjasubagdja.wordpress.com&amp;blog=5600263&amp;post=250&amp;subd=djadjasubagdja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<p style="text-align:right;"><strong>Jika anda tertarik dengan menu nasi darah, sosis <em>squid ward</em>, sayur <em>popeye</em>, buah <em>eragon</em>, buah citra, kue <em>doraemon</em>, kue mayang sari, minuman pelayan semenit, jus terong penjajah, atau jus <em>bugs bunny</em>, maka anda harus bergabung dengan sisiwa baru yang sedang mengikuti masa orientasi sekolah. Istilah-istilah kreatif di atas memang terasa lucu dan menantang kecerdasan peserta MOS (dan orang tuanya juga). Namun apakah memang perlu seperti itu?</strong></p>
</blockquote>
<p>Jika barang yang dimaksud memang tersedia banyak, ya tidak masalah, keluar uang sedikit atau banyak ya tidak apa-apa. Demi anak. Namun jika barang yang dicari sudah habis di pasar/toko, harus bagaimana lagi. Akhirnya akal-akalan, sambil meyakinkan si anak bahwa itu sudah sesuai dengan yang ditugaskan.</p>
<p>Saya kemudian teringat dengan masa orientasi saya sendiri di kampus, dulu. Berbeda dengan kampus-kampus lain ketika itu, ITB tidak menyelenggarakan masa orientasi mahasiswa (OPSPEK). Justru ketika tahun pertama berakhir, memasuki tahun kedua,  kami dipelonco senior sebelum bergabung ke organisasi himpunan jurusan. Penyelenggaraannya tidak diakui otoritas kampus, alias liar.</p>
<p>Namun, meskipun liar, dari sisi tugas membawa barang/perlengkapan, rasanya tidak terlalu merepotkan kami, apa lagi orang tua kami. Peserta yang dipelonco tidak ditugasi membawa barang aneh-aneh yang tidak perlu, paling-paling disuruh membawa koran bekas yang digulung. Setelah capek digulung, eh dipakai senior untuk memukul-mukul lantai menakut-nakuti kami ketika disuruh push up.</p>
<p>Kegiatannya kebanyakan berupa penugasan fisik berat, seperti lari, merayap, atau push up hingga berkali-kali. Kemudian kegiatan diakhiri dengan berkemah di Cikole – Lembang. Oleh sebab itu, kami ditugasi untuk membawa kayu bakar, korek api, lilin, gula batu, kantong kresek, kaos kaki tebal, jaket tebal, dan tenda. Tidak ada barang aneh atau lucu.Tidak ada kalung jengkol dan pete seperti di kampus-kampus lain. Ada juga tugas memecahkan perhitungan rumit yang hasil akhirnya berupa angka, dan pada jam yang sesuai dengan angka tersebut tugas hitungan tadi harus kami kumpulkan.</p>
<p>Jika tidak membawa, tidak dihukum, paling diomel-omeli, karena semua itu merupakan perlengkapan yang harus kami miliki untuk bisa bertahan dalam perkemahan di daerah dingin tersebut. Tidak membawanya sama dengan rugi sendiri. Kalau tidak membawa semua itu, bisa repot, terutama pas kegiatan jurit malam, berjalan sendirian di tengah hutan di malam hari dengan hanya berpedoman pada tanda panah. Ujung-uungnya, akhirnya dibotakin.</p>
<p>Di perkemahan, kegiatan aktivitas fisik berat yang dilakukan cukup heboh, seperti merayap di lumpur, direndam di sungai, naik/turun bukit, tarik tambang, merayap di atas tambang yang direntangkan di antara dua bukit, dan di-<em>press</em> sampai sesak nafas. Jadi rupanya, kegiatan lari, senam, dan push up beberapa hari sebelumnya selama di kampus itu tujuannya sebagai pemanasan sebelum aktivitas fisik berat di perkemahan.</p>
<p>Sebetulnya, baik perpeloncoan lucu-lucuan, maupun perpeloncoan bernuansa aktivitas fisik berat, ujung-ujungnya sama, peserta rata-rata kesal dan marah (setidaknya pada saat itu). Itulah kenapa ketika saya sudah menjadi senior saya tidak mau ikut melonco junior. Bukan apa-apa, sejujurnya dulu saya tidak senang diperlakukan seperti itu, jadi kenapa saya harus melakukan hal itu kepada orang lain?</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/djadjasubagdja.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/djadjasubagdja.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/djadjasubagdja.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/djadjasubagdja.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/djadjasubagdja.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/djadjasubagdja.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/djadjasubagdja.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/djadjasubagdja.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/djadjasubagdja.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/djadjasubagdja.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/djadjasubagdja.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/djadjasubagdja.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/djadjasubagdja.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/djadjasubagdja.wordpress.com/250/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=djadjasubagdja.wordpress.com&amp;blog=5600263&amp;post=250&amp;subd=djadjasubagdja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://djadjasubagdja.wordpress.com/2011/07/11/250/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9989e7920179a65d1d8e811de82a39c8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kang Djadja</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Antara Soto Bangkong, Wingko Babat, dan Tiramisu</title>
		<link>http://djadjasubagdja.wordpress.com/2011/06/14/antara-soto-bangkong-wingko-babat-dan-tiramisu/</link>
		<comments>http://djadjasubagdja.wordpress.com/2011/06/14/antara-soto-bangkong-wingko-babat-dan-tiramisu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Jun 2011 09:20:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>djadjasubagdja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://djadjasubagdja.wordpress.com/?p=246</guid>
		<description><![CDATA[Sekitar tahun 2000-an, dalam perjalanan Bandung-Jakarta, mantan pimpinan saya mampir ke rumah makan Soto Bangkong yang di Puncak. Tidak lupa beliau ajak pak sopir untuk makan bersama. Pak sopir menolak, padahal pastinya dia sangat lapar, karena memang saat itu sudah waktunya makan malam. Sang pimpinan terus memaksa pak sopir untuk makan bareng, karena beliau tau [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=djadjasubagdja.wordpress.com&amp;blog=5600263&amp;post=246&amp;subd=djadjasubagdja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sekitar tahun 2000-an, dalam perjalanan Bandung-Jakarta, mantan pimpinan saya mampir ke rumah makan Soto Bangkong yang di Puncak. Tidak lupa beliau ajak pak sopir untuk makan bersama. Pak sopir menolak, padahal pastinya dia sangat lapar, karena memang saat itu sudah waktunya makan malam. Sang pimpinan terus memaksa pak sopir untuk makan bareng, karena beliau tau pak sopir pasti lapar juga, tapi tetap saja pak sopir menolak.</p>
<p>Akhirnya pimpinan saya sadar kalau sang sopir salah mengerti dengan nama &#8220;Soto Bangkong&#8221;. Bangkong dalam bahasa Sunda berarti katak/kodok. Sang sopir sebetulnya bukan orang Sunda, dia orang Betawi, tapi dia tau kalau bangkong dalam bahasa Sunda itu berarti katak/kodok. &#8220;Pak Warta, Soto Bangkong itu bukan soto kodok, tapi soto ayam khas daerah Bangkong, nama daerah di Semarang,&#8221; demikian sang pimpinan menjelaskan kepada pak sopir. Setelah mengerti, akhirnya pak sopir itupun mau diajak makan malam bersama.</p>
<p>Kisah yang mirip, pernah saya alami sendiri. Dulu, ketika masih di SD, uwak (pakde&#8217;) kami baru pulang dari Semarang. Beliau membawa banyak oleh-oleh, diantaranya Wingko Babat. Kami pun dikirimi Wingko Babat. Membaca namanya, saya fikir ini makanan pasti terbuat dari beras ketan dan di dalamnya ada babatnya. Pas saya gigit, eh koq rasanya manis. Penasaran, saya belah dua itu wingko dengan tangan, berharap menemukan babat di tengahnya. Namun tidak ada babatnya.</p>
<p>Terus terang, saya kecewa &#8230;. hahaha &#8230;. dan tidak habis fikir kenapa harus diembel-embeli babat kalau tidak ada babat di dalamnya. Malah rasanya manis. Sejak saat itu, saya tidak pernah menyentuh lagi yang namanya Wingko Babat, karena merasa &#8220;tertipu&#8221;. Baru setelah saya besar, dan tau bahwa Babat itu nama daerah tempat wingko tersebut dibuat, pelan-pelan saya bisa menikmati Wingko Babat. Sekarang saya malah doyan Wingko Babat.</p>
<p>Satu kisah lucu lagi adalah ketika makan bersama istri saya di sebuah rumah makan di jalan Hasanuddin, di Bandung, di abad yang lalu. Setelah memesan beberapa jenis makanan, istri saya memesan tiramisu. Terus terang, sampai hari itu saya belum pernah makan tiramisu. Pernah mendengar, tapi belum pernah mencoba, ketika itu.</p>
<p>Bayangan saya akan tiramisu adalah tiram dan sup miso (miso soup, sup-nya orang Jepang), dan saya fikir tiramisu ini makanan khas Jepang. Jadi, dengan bayangan seperti itu, saya juga ikut memesan tiramisu ini. &#8220;Tiramisu-nya satu lagi ya, mbak,&#8221; kata saya kepada si pramusaji sambil membayangkan sup miso hangat campur tiram.</p>
<p>Setelah menunggu beberapa saat, datanglah pesanan kami. Tiramisu-nya juga datang bersamaan dengan hidangan utama. &#8220;Ini apa? rasanya kita gak pesan puding coklat,&#8221; kata saya kepada istri. &#8220;Lha kan tadi kita pesan tiramisu,&#8221; jawab istri saya. Hahahaha &#8230;. jadi rupanya ini toh yang disebut tiramisu &#8230;. bukan tiram dan sup miso, serta bukan makanan Jepang!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/djadjasubagdja.wordpress.com/246/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/djadjasubagdja.wordpress.com/246/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/djadjasubagdja.wordpress.com/246/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/djadjasubagdja.wordpress.com/246/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/djadjasubagdja.wordpress.com/246/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/djadjasubagdja.wordpress.com/246/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/djadjasubagdja.wordpress.com/246/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/djadjasubagdja.wordpress.com/246/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/djadjasubagdja.wordpress.com/246/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/djadjasubagdja.wordpress.com/246/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/djadjasubagdja.wordpress.com/246/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/djadjasubagdja.wordpress.com/246/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/djadjasubagdja.wordpress.com/246/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/djadjasubagdja.wordpress.com/246/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=djadjasubagdja.wordpress.com&amp;blog=5600263&amp;post=246&amp;subd=djadjasubagdja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://djadjasubagdja.wordpress.com/2011/06/14/antara-soto-bangkong-wingko-babat-dan-tiramisu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9989e7920179a65d1d8e811de82a39c8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kang Djadja</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ponselku yang Telanjang</title>
		<link>http://djadjasubagdja.wordpress.com/2011/04/16/ponselku-yang-telanjang/</link>
		<comments>http://djadjasubagdja.wordpress.com/2011/04/16/ponselku-yang-telanjang/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Apr 2011 15:58:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>djadjasubagdja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Iptek]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://djadjasubagdja.wordpress.com/?p=242</guid>
		<description><![CDATA[Dari dulu hingga sekarang, ponsel saya selalu telanjang. Artinya saya tidak pernah menyarunginya. Memang sih, setelah dipakai lama ada lecet-lecet, tapi saya tidak kapok-kapok, setiap beli atau dibelikan ponsel baru, tidak pernah saya sarungi. Kenapa tidak pernah saya sarungi? Pertama, jadi gemuk. Takutnya jadi menyaingi pemiliknya yang memang gemuk. Kedua, saya belum menemukan sarung ponsel yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=djadjasubagdja.wordpress.com&amp;blog=5600263&amp;post=242&amp;subd=djadjasubagdja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dari dulu hingga sekarang, ponsel saya selalu telanjang. Artinya saya tidak pernah menyarunginya. Memang sih, setelah dipakai lama ada lecet-lecet, tapi saya tidak kapok-kapok, setiap beli atau dibelikan ponsel baru, tidak pernah saya sarungi.</p>
<p>Kenapa tidak pernah saya sarungi? Pertama, jadi gemuk. Takutnya jadi menyaingi pemiliknya yang memang gemuk. Kedua, saya belum menemukan sarung ponsel yang lebih <em>hi-tech</em> dan lebih mahal dari ponselnya &#8230;. hahahaha &#8230; bercanda &#8230;.. Seriusnya, bagi saya, ponsel itu terlihat lebih cantik dan<em>sexy</em> kalau telanjang, tanpa sarung. Ini bukan porno, <em>lho!</em></p>
<p>Kenapa saya berprinsip demikian? Awalnya sekitar tahun 2000-an, ketika PDA lagi ngetop. Mantan boss saya ketawa abis, menertawakan klien kami yang menyarungi PDA miliknya. &#8220;Sama insinyurnya, itu PDA sengaja dibikin setipis mungkin, eh malah dia pake&#8217;in pake sarung setebal itu,&#8221; kata beliau sambil tertawa. Sejak saat itu, saya lepas sarung ponsel sejuta umat milik saya waktu itu.</p>
<p>Hanya dengan dua alasan itu, hingga kini saya bertahan dengan prinsip ponsel telanjang. Baru tadi pagi saya menemukan alasan ketiga. Seorang teman, Yamin alias Buyung, mengirim artikel pendek di grup BB SMP. Artikel itu menyebutkan bahwa pemakaian sarung malah membuat perangkat jadi panas, sehingga cepat rusak. Apalagi kalau sarungnya memakai magnet, katanya ada pengaruh medan magnet yang membuat perangkat bekerja lebih berat.</p>
<p>Entah benar atau tidak, artikel yang juga mengutip pernyataan seorang karyawan teknik sebuah perusahaan ponsel pintar tersebut, bagi saya cukup logis juga. Apa lagi di artikel tersebut juga ditulis bahwa jika memang sebuah ponsel memerlukan sarung, maka pastilah sarung itu akan disediakan produsen di dalam dus ponsel tersebut. Kenyataannya, sarung ponsel memang dibuat oleh perusahaan lain.</p>
<p>Pastilah ada alasan orang memakaikan sarung pada ponsel kesayangannya. Beda dengan saya yang tidak peduli apakah ponsel saya mau lecet atau tidak, yang penting komunikasi lancar dan tetap gaul. Hal ini barangkali juga merupakan perilaku pengguna. Bagi pengguna, bukan masalah menabrak teknologi, yang penting prinsip ekonomi dia pegang.</p>
<p>Perilaku pengguna yang juga menabrak teknologi (menurut saya) adalah pemakaian lapisan <em>anti-spy</em>pada layar ponsel. Layarnya sudah canggih, sehingga gambar/citra di layar bisa dilihat dari depan dan dari samping. Namun kemudian, kelebihan ini malah dirasakan mengganggu privasi pengguna. Maka dipasanglah lapisan <em>anti-spy</em> yang nota bene &#8220;meredam&#8221; kecanggihan layar generasi terbaru ini.</p>
<p>Ya, itulah perilaku pengguna barang berteknologi tinggi. Bagaimana dengan perilaku pengguna barang sederhana? Coba saja Anda amati sendiri, ada saja orang yang enggan melepas sarung plastik pada kursi kantor yang baru didapatkannya. Panas atuh, juragan! &#8230;.. hahahaha &#8230;&#8230;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/djadjasubagdja.wordpress.com/242/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/djadjasubagdja.wordpress.com/242/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/djadjasubagdja.wordpress.com/242/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/djadjasubagdja.wordpress.com/242/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/djadjasubagdja.wordpress.com/242/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/djadjasubagdja.wordpress.com/242/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/djadjasubagdja.wordpress.com/242/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/djadjasubagdja.wordpress.com/242/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/djadjasubagdja.wordpress.com/242/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/djadjasubagdja.wordpress.com/242/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/djadjasubagdja.wordpress.com/242/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/djadjasubagdja.wordpress.com/242/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/djadjasubagdja.wordpress.com/242/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/djadjasubagdja.wordpress.com/242/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=djadjasubagdja.wordpress.com&amp;blog=5600263&amp;post=242&amp;subd=djadjasubagdja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://djadjasubagdja.wordpress.com/2011/04/16/ponselku-yang-telanjang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9989e7920179a65d1d8e811de82a39c8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kang Djadja</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Seandainya Sepupu Saya Terus Bermain Bola</title>
		<link>http://djadjasubagdja.wordpress.com/2011/01/10/236/</link>
		<comments>http://djadjasubagdja.wordpress.com/2011/01/10/236/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Jan 2011 10:56:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>djadjasubagdja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://djadjasubagdja.wordpress.com/?p=236</guid>
		<description><![CDATA[Setiap menyaksikan pertandingan sepak bola di tv, saya selalu teringat seorang sepupu yang waktu kecilnya termasuk jagoan main sepak bola. Di penghujung tahun 70-an, di tempat tinggal kami bermunculan klub-klub sepak bola anak-anak kampung. Biasanya satu klub terdiri dari beberapa anak yang tinggal berdekatan, dari RT atau RW yang sama. Lantas mereka bertanding dengan klub [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=djadjasubagdja.wordpress.com&amp;blog=5600263&amp;post=236&amp;subd=djadjasubagdja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setiap menyaksikan pertandingan sepak bola di tv, saya selalu teringat seorang sepupu yang waktu kecilnya termasuk jagoan main sepak bola. Di penghujung tahun 70-an, di tempat tinggal kami bermunculan klub-klub sepak bola anak-anak kampung. Biasanya satu klub terdiri dari beberapa anak yang tinggal berdekatan, dari RT atau RW yang sama. Lantas mereka bertanding dengan klub kampung lain.</p>
<p>Fenomena ini kemudian berkembang. Pertandingan klub anak-anak kampung ini kemudian menjadi lebih terorganisir hingga menjadi sebuah turnamen di tingkat Kelurahan (waktu itu namanya Lingkungan). Pada perkembangannya, tidak hanya anak-anak yang membentuk klub, tapi kemudian para pemuda pun mengikuti jejak mereka. Kemudian lahirlah apa yang disebut “Domba Cup”.</p>
<p>Kembali ke sepupu saya tadi. Sang sepupu ini termasuk menonjol permainannya di turnamen antar klub anak-anak kampung. Beberapa kali saya menyaksikan dia bertanding, terus terang dia memang jago menggiring bola, dan bahkan memasukkannya ke gawang. Namun sayang, sang sepupu yang ketika itu dalam asuhan buyut kami, tidak direstui buyut kami untuk bermain bola.</p>
<p>Di mata buyut kami, bermain sepak bola hanya membuang-buang waktu. Seringkali buyut kami menjewernya kalau ketahuan bermain sepak bola. Bahkan kami pun kena getahnya dan diberi tahu orang tua kami agar tidak mendorong-dorong dia bermain sepak bola. Terus terang, waktu itu saya dan sepupu-sepupu lain yang menyemangati dia bermain di klub kampung.</p>
<p>Waktu berjalan, setahu kami, sang sepupu ini masih suka bermain sepak bola hingga SMP. Barangkali buyut kami pun tau mengenai itu, tapi selama bukan mengikuti pertandingan antar klub kampung, ya masih oke-oke saja lah. Barangkali maksud buyut kami adalah, oke saja kalau hanya berolah raga bermain bola, tapi jangan ikut bertanding, karena sekolah yang utama.</p>
<p>Setelah kami besar, saya, yang memang dari kecil tidak terlalu menggemari dunia olah raga, kemudian meneruskan sekolah di perguruan tinggi. Sang sepupu tadi pun sama, dia kemudian kuliah juga, tidak menjadi pemain bola. Sekarang, setelah dewasa, saya menjadi pegawai, demikian pula dengan sepupu saya tadi. Itu barangkali memang sudah menjadi jalan hidup kami. <em>Alhamdulillah</em> kami bisa menghidupi keluarga dengan menjadi karyawan.</p>
<p>Namun, selalu saja saya berandai-andai. Seandainya sepupu saya dulu tidak dilarang-larang bermain sepak bola di klub kampung, barangkali dia sudah menjadi pemain tim sepak bola nasional, atau minimal pemain Persib. Perkiraan saya tidak berlebihan, karena kemampuan si sepupu saya tadi, menurut saya, kurang lebihnya sama lah dengan salah seorang teman SMA saya yang kebetulan pemain Persib Junior.</p>
<p>Sebelum saya lanjutkan, di sini saya tidak bermaksud menyalahkan buyut kami. Tidak, beliau tidak salah. Hanya saja, memang ketika itu menjadi pemain sepak bola bukan sebuah profesi menjanjikan. Bahkan baru 10 tahun setelah itu para pemain sepak bola mendapatkan penghasilan yang lumayan plus janji menjadi karyawan Pemda. Baru beberapa tahun setelah itu muncul kompetisi sepak bola pro yang lebih mensejahterakan pemain.</p>
<p>Seandainya saja sepupu saya menjadi pemain sepak bola profesional, pastinya penghasilannya akan jauh lebih banyak dari sekarang ini. Jangan salah sangka, sepupu saya ini sekarang memiliki pekerjaan tetap di sebuah perusahaan nasional. Namun jika kita bandingkan dengan penghasilan pemain sepak bola yang bisa mencapai Rp 80 juta per bulan, maka gaji sepupu saya bukan tandingannya.</p>
<p>Ah, seandainya sepupu saya menjadi pemain profesional, atau lebih jauh lagi, seandainya lebih banyak lagi anak negri ini yang dari kecil didorong untuk menjadi pemain sepak bola profesional, tentunya dana sepakbola yang diambil dari APBD itu tidak akan banyak jatuh ke tangan pemain asing!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/djadjasubagdja.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/djadjasubagdja.wordpress.com/236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/djadjasubagdja.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/djadjasubagdja.wordpress.com/236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/djadjasubagdja.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/djadjasubagdja.wordpress.com/236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/djadjasubagdja.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/djadjasubagdja.wordpress.com/236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/djadjasubagdja.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/djadjasubagdja.wordpress.com/236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/djadjasubagdja.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/djadjasubagdja.wordpress.com/236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/djadjasubagdja.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/djadjasubagdja.wordpress.com/236/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=djadjasubagdja.wordpress.com&amp;blog=5600263&amp;post=236&amp;subd=djadjasubagdja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://djadjasubagdja.wordpress.com/2011/01/10/236/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9989e7920179a65d1d8e811de82a39c8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kang Djadja</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tentang Pajak Oleh-oleh Itu</title>
		<link>http://djadjasubagdja.wordpress.com/2010/12/11/tentang-pajak-oleh-oleh-itu/</link>
		<comments>http://djadjasubagdja.wordpress.com/2010/12/11/tentang-pajak-oleh-oleh-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Dec 2010 13:51:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>djadjasubagdja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://djadjasubagdja.wordpress.com/?p=234</guid>
		<description><![CDATA[Alkisah, si Fulan ditugasi kantornya mengunjungi pameran buku terbesar di dunia, yakni Frankfurt Book Fair (FBF). Di FBF tidak ada peserta yang menjual buku. Di sana buku dipamerkan untuk dijual hak ciptanya kepada penerbit lain untuk diterjemahkan ke dalam bahasa lain. FBF adalah pameran buku business to business (B2B). Ketika pameran berakhir, seperti biasa, peserta [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=djadjasubagdja.wordpress.com&amp;blog=5600263&amp;post=234&amp;subd=djadjasubagdja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Alkisah, si Fulan ditugasi kantornya mengunjungi pameran buku terbesar di dunia, yakni <em>Frankfurt Book Fair (FBF</em>). Di FBF tidak ada peserta yang menjual buku. Di sana buku dipamerkan untuk dijual hak ciptanya kepada penerbit lain untuk diterjemahkan ke dalam bahasa lain. FBF adalah pameran buku <em>business to business (B2B)</em>. Ketika pameran berakhir, seperti biasa, peserta pameran meninggalkan buku-buku yang dipamerkan begitu saja dan semua pengunjung bisa mengambilnya, gratis!</p>
<p>Hal itu pula yang dilakukan si Fulan seselesainya pameran. Dia langsung mengambil beberapa buku menarik untuk koleksi perpustakaan di kantornya, sebuah perusahaan penerbitan buku. Dia berharap para editor di kantornya bisa melihat buku-buku yang dia bawa untuk diadaptasi. Dia juga berharap teman-teman kantornya bisa menambah wawasan dengan membaca buku-buku yang dibawanya.</p>
<p>Harga buku di luar negri tidak seperti harga buku di kita yang selalu dianggap mahal. Harga buku di luar negri didasarkan pada pemikiran bahwa buku berisi ilmu dan informasi, jadi betul-betul dihargai. Maka jangan heran jika harga buku ada di kisaran 15 hingga 100 dollar Amerika Serikat. Buku yang diambil si Fulan di pameran pastinya buku bagus, jadi katakanlah harganya rata-rata sekitar 50 dollar Amerika. </p>
<p>Jika ada 10 buku saja yang bisa dia ambil secara gratis di pameran, maka nilainya bisa mencapai 500 dollar Amerika! Nilai itu di atas 250 dollar Amerika, di atas batas tidak kena pajak oleh-oleh. Apakah itu akan dipajaki? </p>
<p>Lantas bagaimana menentukan harganya karena buku-buku itu memang benar-benar didapat tanpa bon, alias gratis. Apa si Fulan harus meminta surat keterangan kepada Kanselir Jerman bahwa semua buku di FBF bisa didapat secara gratis di akhir pameran? <em>Enggak lah yaw</em>, nanti kita malah ditertawakan orang-orang sedunia!</p>
<p>Belakangan obrolan-obrolan di FB dan BB dimarakkan juga dengan topik pajak yang dikenakan atas oleh-oleh yang kita bawa dari luar negri. Jika oleh-oleh kita masih senilai 250 dollar Amerika atau kurang dari itu, maka kita tidak perlu membayar pajak. Pajak oleh-oleh hanya dibayarkan atas kelebihan nilai jika oleh-oleh kita totalnya memebihi angka 250 dollar Amerika.</p>
<p>Konon peraturan ini sebetulnya telah lama ada, tetapi sudah lama tidak ditegakkan, nah baru sekarang-sekarang ini ditegakkan kembali. Terlepas dari setuju atau tidak setuju, peraturan adalah peraturan, dan hal tersebut telah diundangkan. Hanya saja tentunya sebuah peraturan itu bisa dikokersi oleh peraturan yang lebih baru. Mau mengoreksinya? </p>
<p>Barangkali yang harus dipertimbangkan adalah angka 250 dollar Amerika yang dijadikan batasan atau kuotanya. Apa yang menjadi dasar penetapannya? Harga oleh-oleh di negara mana yang dijadikan patokan? Apakah semua jenis oleh-oleh yang melebihi nilai tersebut layak dikenai pajak? Seperti misalnya buku gratis si Fulan tadi atau air zam zam oleh-oleh jemaah haji. Berani menentukan nilai air zam zam? Bisa kualat, juragan!</p>
<p>Sebagaimana kita tau, kalau dari luar negri, maka barang belanjaan yang layak disebut oleh-oleh adalah suvenir atau barang yang belum ada di negri kita. Jadi, misalnya, orang membeli oleh-oleh jam tangan model terbaru atau sepatu model terbaru atau sovenir khas negara yang dikunjunginya. Harganya pastilah lebih dari 250 dollar Amerika. Bukankan oleh-oleh tersebut adalah tanda sayang kepada istri dan anak-anak tercinta? Wajarkah nilai 250 dollar sebagai batasan?</p>
<p>Mari kita pakai kasus yang realistik dan lebih umum. Misalnya seorang karyawan mendapat tugas dinas ke Manila. Selesai menjalankan tugas, dia belanja di toko suvenir, membeli 3 buah hiasan dari kulit kerang khas Filipina. Satu untuk dia pajang di rumah, dua lainnya untuk dihadiahkan kepada orang tua dan mertua. Itu hal yang wajar. Lalu dia juga membeli baju barong a’la Marcos untuk suaminya. Tidak lupa dia membeli tas dari anyaman khas Filipina. Untuk kedua orang anaknya, dia membeli mainan kayu khas Philipina. Ini juga masih wajar.</p>
<p>Mari kita bermatematika ria sebentar. Hiasan dari kulit kerang harga satuannya kurang lebih 20 dollar Amerika. Harga mainan sekitar 10 dollar Amerika. Harga tas wanita sekitar 25 dollar Amerika. Sementara harga baju barong memang cukup mahal, tapi itu kan untuk suami tersayang; harganya sekitar 150 dollar Amerika. Tidak lupa juga dia membeli beberapa dus manisan mangga khas Philippina senilai 20 dollar untuk teman sekantor. Jadi total belanja dia senilai 275 dollar Amerika.</p>
<p>Untuk belanja oleh-oleh paket hemat seperti contoh di atas saja, nilainya sudah 275 dollar Amerika. Apa lagi jika orang tersebut ditugaskan ke Singapura yang harga barang-barangnya lebih mahal dibandingkan dengan di Filipina. Belum lagi jika orang tersebut ditugaskan ke New York. Dia pasti membeli beberapa sovenir khas NYC dan pastinya parfum, mainan, dan buku untuk suami dan anak-anak tercinta. Nilainya pasti tidak akan kurang dari 500 dollar.</p>
<p>Kita juga harus membandingkan dengan negara kita sendiri. Kita bayangkan seorang warga asing yang mengikuti seminar atau simposium di Jakarta, dia pasti membeli sepasang baju batik untuk dirinya dan istrinya. Harganya pasti jutaan rupiah. Belum lagi kalau dia membeli beberapa ukiran dan hiasan dinding untuk dia pajang di rumahnya, sebagai tanda dia pernah ke Jakarta. Berapa itu semua? Pastilah tidak kurang dari 5 juta rupiah.  Nilai ini wajar bagi seseorang yang bepergian ke luar negri. </p>
<p>Nilai belanja si orang yang ditugasi ke Manila di atas, atau kalau dia ditugaskan ke Singapura atau New York sudah lebih dari 250 dollar. Kasus tersebut masih disandarkan atas hal-hal yang lazim dibeli seseorang sebagai oleh-oleh. Dalam banyak kasus, ketika kita ke luar negri, ada saja teman yang nitip beli sesuatu, atau teman-teman kantor yang nagih oleh-oleh. Setidaknya beberapa helai t-shirt harus kita beli untuk teman-teman atau kerabat. Ini hal yang wajar, dan yang wajar seperti ini yang harus dipertimbangkan dalam menetapkan kuota nilai oleh-oleh yang tidak kena pajak.</p>
<p>Lain si Fulan lain si Falun. Si Falun ini kikir, jarang sekali dia membeli oleh-oleh untuk keluarganya kalau ditugaskan ke luar negri. “Nanti papa kasih mentahnya aja ya mam, dari pada kena pajak,” demikian kata si Falun ke istrinya. Nah, suatu ketika si Falun ditugaskan ke Kanada. Di sana dia tidak lupa menemui sahabat lamanya yang sekarang bermukim di Toronto. Sang sahabat senang dikunjungi si Falun, dan tidak lupa sang sahabat memberikan hadiah sepasang jam tangan mahal untuk si Falun dan istrinya.</p>
<p>Falun tau bahwa hal ini akan berdampak pada pembayaran pajak oleh-oleh. Jam tangan yang untuk dirinya bisa dia langsung pakai, tapi jam tangan yang untuk istrinya bagaimana? Mau dia tolak aja? Kan gak enak. Mau dibuang aja? Ya sayang dong, itu jam tangan kan harganya ribuan dollar Amerika. </p>
<p>Akhirnya si Falun terpaksa membawanya sebagai oleh-oleh. Sesampainya di  Tanah Air, si Falun terpaksa membayar pajak oleh-oleh sebagai dampak kebaikan dari sahabat lamanya tadi. Karena tanpa bon, harga pun ditentukan oleh petugas. “Inilah nilai persahabatan,” gumam si Falun ketika dia mengeluarkan uang dari dompetnya untuk membayar pajak oleh-oleh.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/djadjasubagdja.wordpress.com/234/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/djadjasubagdja.wordpress.com/234/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/djadjasubagdja.wordpress.com/234/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/djadjasubagdja.wordpress.com/234/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/djadjasubagdja.wordpress.com/234/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/djadjasubagdja.wordpress.com/234/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/djadjasubagdja.wordpress.com/234/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/djadjasubagdja.wordpress.com/234/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/djadjasubagdja.wordpress.com/234/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/djadjasubagdja.wordpress.com/234/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/djadjasubagdja.wordpress.com/234/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/djadjasubagdja.wordpress.com/234/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/djadjasubagdja.wordpress.com/234/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/djadjasubagdja.wordpress.com/234/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=djadjasubagdja.wordpress.com&amp;blog=5600263&amp;post=234&amp;subd=djadjasubagdja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://djadjasubagdja.wordpress.com/2010/12/11/tentang-pajak-oleh-oleh-itu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9989e7920179a65d1d8e811de82a39c8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kang Djadja</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hujan Abu Vulkanik</title>
		<link>http://djadjasubagdja.wordpress.com/2010/11/08/hujan-abu-vulkanik/</link>
		<comments>http://djadjasubagdja.wordpress.com/2010/11/08/hujan-abu-vulkanik/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Nov 2010 02:44:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>djadjasubagdja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://djadjasubagdja.wordpress.com/?p=232</guid>
		<description><![CDATA[Pekan ini kota-kota di sekitar Merapi diguyur hujan abu vulkanik yang dimuntahkannya. Bahkan abu vulkanik Merapi tertiup jauh hingga ke Pangalengan, Kabupaten Bandung. Beberapa foto yang memperlihatkan warga Yogyakarta, Magelang, dan Sleman mengenakan masker di jalanan berdebu nampak menghiasi sejumlah media. Terus terang saya sangat prihatin dengan kondisi tersebut. Keprihatinan saya didasari oleh pengalaman yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=djadjasubagdja.wordpress.com&amp;blog=5600263&amp;post=232&amp;subd=djadjasubagdja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pekan ini kota-kota di sekitar Merapi diguyur hujan abu vulkanik yang dimuntahkannya. Bahkan abu vulkanik Merapi tertiup jauh hingga ke Pangalengan, Kabupaten Bandung. Beberapa foto yang memperlihatkan warga Yogyakarta, Magelang, dan Sleman mengenakan masker di jalanan berdebu nampak menghiasi sejumlah media. Terus terang saya sangat prihatin dengan kondisi tersebut.</p>
<p>Keprihatinan saya didasari oleh pengalaman yang sama, yang pernah saya alami juga di tahun 1982 ketika Galunggung meletus. Ketika itu abu vulkanik Galunggung tertiup jauh hingga ke Kota Bandung. Apa yang dialami warga Yogyakarta, Sleman, Magelang dan kota lainnya di seputar Merapi sama dengan yang kami alami dulu di tahun 1982.</p>
<p>Ketika abu Galunggung menghujani Kota Bandung, kecepatan pemberitaan belum sefantastis jaman sekarang. Berita aktivitas Galunggung tidak seramai berita aktivitas Merapi saat ini. Lebih dari itu, saya kira warga Bandung juga tidak pernah berfikir abu letusan Galunggung bakal menghujani kotanya. Jarak Galunggung – Bandung tidak sedekat Merapi – Yogyakarta, jadi sungguh merupakan kejutan bagi orang Bandung menerima hujan abu Galunggung.</p>
<p>Saya masih ingat, pagi itu saya pergi ke sekolah seperti biasa, naik bemo. Ketika sampai di perempatan antara Jalan Gardujati dan Jalan Kebonjati, saya pijit bel bemo karena mau turun. Namun saat itu ada pemandangan yang membuat saya terheran-heran. Ketika membayar ongkos ke sopir bemo, saya lihat langit di sebelah Timur malah gelap. Lantas secara refleks saya tengok ke belakang, ke arah Barat, dan ternyata malah langit di Barat terang benderang. Saya bisa melihat perbedaan ini karena kebetulan Jalan Kebonjati membujur dari arah Barat ke Timur.</p>
<p>Apa mungkin ini yang namanya kiamat, fikir saya waktu itu. Namun sebagai seorang anak kelas 2 SMP, saya waktu itu tidak berfikir terlalu banyak. Saya lantas lanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menyusuri Jalan Pasirkaliki menuju sekolah. Tiba di sekolah, teman-teman juga ramai membicarakan langit yang menghitam. Namun setelah bel berbunyi kami segera masuk ke dalam kelas.</p>
<p>Setelah bel berbunyi, guru matematika kami, Ibu Nurma Isa, masuk ke kelas, dan kami belajar matematika seperti biasa. Beberapa waktu setelah pelajaran dimulai perhatian kami teralihkan ke keriuhan di luar kelas saat teman-teman dari kelas lain (kalau tak salah kelas 2F) sedang berjalan beriringan dari arah perpustakaan menuju ke kelas mereka. Teman-teman ini berjalan sambil membersihkan rambutnya dari debu berwarna abu-abu.</p>
<p>Lantas segera saja kami semua tersadar bahwa ada sesuatu yang sedang terjadi, hujan abu! Kepala Sekolah beserta para guru segera membuat pengumuman bahwa kegiatan belajar dihentikan, tapi siswa silarang meninggalkan sekolah kecuali jika ada orang tua yang menjemput atau rumahnya tidak jauh dari sekolah. Saya sendiri dijemput oleh ayah kami dengan mobil jemputan kantor. Perjalanan dari sekolah ke rumah cukup mencekam juga, jalan dan udara dipenuhi abu. Semua kendaraan menyalakan lampu dan berjalan perlahan karena pandangan buruk dan jalan juga menjadi licin oleh tumpukan abu.</p>
<p>Setibanya di rumah, ibu dan adik-adik rupanya sudah terlebih dahulu ada di rumah. Lantas segera saja ayah kami menutup semua lubang ventilasi dengan koran bekas, serta menutupi celah pintu bagian bawah dengan kain pel basah. Langit gelap, udara dikotori abu yang terus turun dari langit, dan suhu udara dingin, sedingin malam. Tidak banyak yang kami lakukan selain tiduran sambil berselimut.</p>
<p>Baru sore harinya abu vulkanik tidak turun lagi, namun kami belum bisa melihat langit, karena udara yang masih terkotori abu. Bayangkan saja, abu vulkanik itu sangat halus, angin sepoi-sepoi saja dapat menerbangkan tumpukan abu di tanah. Abu yang turun di Kota Bandung waktu itu volumenya juga sangat banyak. Tumpukannya di jalan dan halaman barangkali mencapai ketebalan 5 sampai 10 sentimeter. Becak yang meluncur di jalanan saja dapat menerbangkan tumpukan abu tersebut.</p>
<p>Saya lupa apakah keesokan harinya saya pergi ke sekolah atau kami diliburkan. Namun yang jelas selama beberapa pekan kami harus memakai penutup hidung jika bepergian. Saat itu masker yang seperti dipakai pengendara sepeda motor jaman sekarang belum ada, masker rumah sakit juga tidak lazim dijual di apotek, jadi pada saat itu penutup hidung kami adalah saputangan. Kami juga belum dapat bermain-main di pekarangan. Sampai beberapa hari, jarang sekali orang keluar rumah. Jangankan main kucing-kucingan atau sepak bola dengan teman-teman, untuk main ke rumah teman saja rasanya enggan.</p>
<p>Beberapa hari setelah hujan abu tersebut, tiba-tiba saja ayah kami naik ke atap rumah, lantas turun kembali untuk mengambil sekop kecil dan beberapa kantong plastik. Lantas beliau kembali naik ke atap. Sambil mengenakan penutup hidung, beliau sekopi abu yang menempel di genting lalu beliau masukkan ke kantong plastik. Jika kantong-kantong plastiknya sudah penuh, beliau minta bantuan kami untuk membuang abunya.</p>
<p>Demikian beliau lakukan hal itu beberapa hari, di sore hari sepulang kerja (jaman dulu jam kerja hanya sampai pukul 14.00). Setelah tumpukan debu di genting dan jalan air terambil semua, lantas beliau menyirami genting dengan air dari selang. Meskipun saat itu saya bingung mengapa beliau lakukan itu, tapi kami bantu juga. Tetangga juga nampaknya pada bingung. Mungkin mereka fikir kenapa pula tumpukan abu di genting itu harus dibersihkan, bukankah hujan yang akan membersihkannya?</p>
<p>Saya perhatikan, beberapa orang yang melintas di depan rumah kami juga sedikit tersenyum melihat apa yang ayah kami lakukan. Namun karena ayah kami seorang perwira menengah, pastilah mereka tahan-tahan untuk tidak tertawa. Pembantu kami juga bercerita kalau orang-orang sebetulnya pada tertawa menyaksikan apa yang ayah kami lakukan, tapi mereka tidak berani tertawa di dekat rumah kami.</p>
<p>Namun apa yang dilakukan ayah kami berbuah manis ketika hujan turun. Apa yang menjadi keheranan orang-orang akhirnya terjawab ketika turun hujan pertama pasca hujan abu tadi. Setelah hujan berhenti hampir semua tetangga ribut lantaran talang air mereka tersumbat abu. Bahkan ketika hujan sedang turun beberapa dari mereka naik ke atap untuk menusuk-nusuk abu yang menyumbat talang air. Beberapa talang rumah tetangga juga ada yang jebol, bahkan ada yang pinggiran atapnya rusak karena terbebani air yang menggenanginya, akibat talang yang tersumbat.</p>
<p>Saya ingat, setelah hujan itu nenek kami berkata, “Nah kalau dulu orang-orang menertawakan bapak kalian ketika sedang membersihkan atap rumah, sekarang kita tersenyum karena talang rumah kita tidak mampet.” Begitulah kata nenek kami yang bangga dengan menantunya itu.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/djadjasubagdja.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/djadjasubagdja.wordpress.com/232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/djadjasubagdja.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/djadjasubagdja.wordpress.com/232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/djadjasubagdja.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/djadjasubagdja.wordpress.com/232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/djadjasubagdja.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/djadjasubagdja.wordpress.com/232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/djadjasubagdja.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/djadjasubagdja.wordpress.com/232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/djadjasubagdja.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/djadjasubagdja.wordpress.com/232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/djadjasubagdja.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/djadjasubagdja.wordpress.com/232/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=djadjasubagdja.wordpress.com&amp;blog=5600263&amp;post=232&amp;subd=djadjasubagdja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://djadjasubagdja.wordpress.com/2010/11/08/hujan-abu-vulkanik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9989e7920179a65d1d8e811de82a39c8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kang Djadja</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
