Beranda Djadja Subagdja

Yuk kita bebenah!

Archive for July, 2011

Si Oleh-oleh Rutin: Ayam Pop!

Posted by djadjasubagdja on July 13, 2011

Dari tahun 1976 hingga 1981, Ayah kami ditempatkan di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Kami, anak-anak, dan Ibu tidak turut ke Banjarmasin, karena Ibu bekerja sebagai guru di Bandung. Waktu itu, kondisi Banjarmasin belum seperti sekarang, air bersih dan sayuran segar sulit didapat. Itu juga yang menjadi alasan kedua kenapa kami tidak pindah ke Banjarmasin. Untungnya atasan Ayah kami sangat pengertian. Setiap ada rapat di Jakarta, beliau selalu menugaskan ayah kami yang menghadiri rapat. Artinya, sering juga ayah kami bisa berkesempatan pulang ke Bandung.

 Waktu itu, perjalanan terpraktis dari Jakarta ke Bandung, atau sebaliknya, adalah dengan Taxi 4848. Karena penumpang dijemput dari rumah dan diantar hingga ke tujuan. Mobil yang dipakai 4848 saat itu adalah sedan Holden Kingswood atau Premier, jadi penumpangnya hanya 4 orang, tidak terlalu makan waktu pada penjemputan dan pengantaran. Ketika itu Jakarta belum terlalu macet, dan Bandung belum macet. Khusus untuk rute Bandung-Jakarta atau sebaliknya, tempat istirahat resmi 4848 adalah Restoran Simpang Raya di Puncak.

Jadi, setelah selesai rapat di Jakarta, ayah kami pulang dulu ke Bandung naik Taksi 4848. Demikian pula sebaliknya, ketika harus kembali ke Banjarmasin, maka beliau juga memakai Taksi 4848 ke Bandara Kemayoran, Jakarta. Kelihatannya tidak ada yang istimewa, tapi bagi kami, anak-anaknya, ada yang istimewa. Ketika Taksi 4848 beristirahat di Simpang Raya Puncak, seperti penumpang lainnya tentu saja ayah kami makan. Namun beliau juga tidak lupa memesan beberapa potong ayam pop untuk dibungkus sebagai oleh-oleh. Itulah istimewanya!

Seingat saya, karena kebaikan atasannya tadi, dalam setahun, bisa dua atau tiga kali ayah kami berkesempatan pulang ke Bandung, termasuk pas Lebaran. Itu artinya, dalam setahun, kami bisa dua sampai tiga kali menikmati ayam pop Simpang Raya Puncak sebagai oleh-oleh. Akhirnya ayam pop menjadi makanan favorit saya di rumah makan Minang. Oleh-oleh memang selalu memberi makna dan kesan baik.

Ketika saya sudah berkeluarga, dalam perjalanan dari Bandung ke Jakarta beserta anak-istri dan mertua, kami mampir ke restoran Simpang Raya Puncak. Saya memesan ayam pop, demikian pula istri saya. Sambil makan, ibu mertua saya bercerita bahwa dulu Bapak Mertua (alm) suka mampir di Simpang Raya Puncak sepulang dinas dari Bandung. Ya ampun, saya jadi berfikir, barangkali dulu beliau pernah makan satu restoran dengan ayah kami, lalu sama-sama memesan ayam pop, dibungkus buat anak-anak di rumah. Kemudian yang seorang pulang ke Jakarta, yang seorang lagi pulang ke Bandung. Entahlah ….

Posted in Humaniora | 2 Comments »

Jus Terong Penjajah yang Menjajah

Posted by djadjasubagdja on July 11, 2011

Jika anda tertarik dengan menu nasi darah, sosis squid ward, sayur popeye, buah eragon, buah citra, kue doraemon, kue mayang sari, minuman pelayan semenit, jus terong penjajah, atau jus bugs bunny, maka anda harus bergabung dengan sisiwa baru yang sedang mengikuti masa orientasi sekolah. Istilah-istilah kreatif di atas memang terasa lucu dan menantang kecerdasan peserta MOS (dan orang tuanya juga). Namun apakah memang perlu seperti itu?

Jika barang yang dimaksud memang tersedia banyak, ya tidak masalah, keluar uang sedikit atau banyak ya tidak apa-apa. Demi anak. Namun jika barang yang dicari sudah habis di pasar/toko, harus bagaimana lagi. Akhirnya akal-akalan, sambil meyakinkan si anak bahwa itu sudah sesuai dengan yang ditugaskan.

Saya kemudian teringat dengan masa orientasi saya sendiri di kampus, dulu. Berbeda dengan kampus-kampus lain ketika itu, ITB tidak menyelenggarakan masa orientasi mahasiswa (OPSPEK). Justru ketika tahun pertama berakhir, memasuki tahun kedua,  kami dipelonco senior sebelum bergabung ke organisasi himpunan jurusan. Penyelenggaraannya tidak diakui otoritas kampus, alias liar.

Namun, meskipun liar, dari sisi tugas membawa barang/perlengkapan, rasanya tidak terlalu merepotkan kami, apa lagi orang tua kami. Peserta yang dipelonco tidak ditugasi membawa barang aneh-aneh yang tidak perlu, paling-paling disuruh membawa koran bekas yang digulung. Setelah capek digulung, eh dipakai senior untuk memukul-mukul lantai menakut-nakuti kami ketika disuruh push up.

Kegiatannya kebanyakan berupa penugasan fisik berat, seperti lari, merayap, atau push up hingga berkali-kali. Kemudian kegiatan diakhiri dengan berkemah di Cikole – Lembang. Oleh sebab itu, kami ditugasi untuk membawa kayu bakar, korek api, lilin, gula batu, kantong kresek, kaos kaki tebal, jaket tebal, dan tenda. Tidak ada barang aneh atau lucu.Tidak ada kalung jengkol dan pete seperti di kampus-kampus lain. Ada juga tugas memecahkan perhitungan rumit yang hasil akhirnya berupa angka, dan pada jam yang sesuai dengan angka tersebut tugas hitungan tadi harus kami kumpulkan.

Jika tidak membawa, tidak dihukum, paling diomel-omeli, karena semua itu merupakan perlengkapan yang harus kami miliki untuk bisa bertahan dalam perkemahan di daerah dingin tersebut. Tidak membawanya sama dengan rugi sendiri. Kalau tidak membawa semua itu, bisa repot, terutama pas kegiatan jurit malam, berjalan sendirian di tengah hutan di malam hari dengan hanya berpedoman pada tanda panah. Ujung-uungnya, akhirnya dibotakin.

Di perkemahan, kegiatan aktivitas fisik berat yang dilakukan cukup heboh, seperti merayap di lumpur, direndam di sungai, naik/turun bukit, tarik tambang, merayap di atas tambang yang direntangkan di antara dua bukit, dan di-press sampai sesak nafas. Jadi rupanya, kegiatan lari, senam, dan push up beberapa hari sebelumnya selama di kampus itu tujuannya sebagai pemanasan sebelum aktivitas fisik berat di perkemahan.

Sebetulnya, baik perpeloncoan lucu-lucuan, maupun perpeloncoan bernuansa aktivitas fisik berat, ujung-ujungnya sama, peserta rata-rata kesal dan marah (setidaknya pada saat itu). Itulah kenapa ketika saya sudah menjadi senior saya tidak mau ikut melonco junior. Bukan apa-apa, sejujurnya dulu saya tidak senang diperlakukan seperti itu, jadi kenapa saya harus melakukan hal itu kepada orang lain?

Posted in Pendidikan | Leave a Comment »

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.