Dari dulu hingga sekarang, ponsel saya selalu telanjang. Artinya saya tidak pernah menyarunginya. Memang sih, setelah dipakai lama ada lecet-lecet, tapi saya tidak kapok-kapok, setiap beli atau dibelikan ponsel baru, tidak pernah saya sarungi.
Kenapa tidak pernah saya sarungi? Pertama, jadi gemuk. Takutnya jadi menyaingi pemiliknya yang memang gemuk. Kedua, saya belum menemukan sarung ponsel yang lebih hi-tech dan lebih mahal dari ponselnya …. hahahaha … bercanda ….. Seriusnya, bagi saya, ponsel itu terlihat lebih cantik dansexy kalau telanjang, tanpa sarung. Ini bukan porno, lho!
Kenapa saya berprinsip demikian? Awalnya sekitar tahun 2000-an, ketika PDA lagi ngetop. Mantan boss saya ketawa abis, menertawakan klien kami yang menyarungi PDA miliknya. “Sama insinyurnya, itu PDA sengaja dibikin setipis mungkin, eh malah dia pake’in pake sarung setebal itu,” kata beliau sambil tertawa. Sejak saat itu, saya lepas sarung ponsel sejuta umat milik saya waktu itu.
Hanya dengan dua alasan itu, hingga kini saya bertahan dengan prinsip ponsel telanjang. Baru tadi pagi saya menemukan alasan ketiga. Seorang teman, Yamin alias Buyung, mengirim artikel pendek di grup BB SMP. Artikel itu menyebutkan bahwa pemakaian sarung malah membuat perangkat jadi panas, sehingga cepat rusak. Apalagi kalau sarungnya memakai magnet, katanya ada pengaruh medan magnet yang membuat perangkat bekerja lebih berat.
Entah benar atau tidak, artikel yang juga mengutip pernyataan seorang karyawan teknik sebuah perusahaan ponsel pintar tersebut, bagi saya cukup logis juga. Apa lagi di artikel tersebut juga ditulis bahwa jika memang sebuah ponsel memerlukan sarung, maka pastilah sarung itu akan disediakan produsen di dalam dus ponsel tersebut. Kenyataannya, sarung ponsel memang dibuat oleh perusahaan lain.
Pastilah ada alasan orang memakaikan sarung pada ponsel kesayangannya. Beda dengan saya yang tidak peduli apakah ponsel saya mau lecet atau tidak, yang penting komunikasi lancar dan tetap gaul. Hal ini barangkali juga merupakan perilaku pengguna. Bagi pengguna, bukan masalah menabrak teknologi, yang penting prinsip ekonomi dia pegang.
Perilaku pengguna yang juga menabrak teknologi (menurut saya) adalah pemakaian lapisan anti-spypada layar ponsel. Layarnya sudah canggih, sehingga gambar/citra di layar bisa dilihat dari depan dan dari samping. Namun kemudian, kelebihan ini malah dirasakan mengganggu privasi pengguna. Maka dipasanglah lapisan anti-spy yang nota bene “meredam” kecanggihan layar generasi terbaru ini.
Ya, itulah perilaku pengguna barang berteknologi tinggi. Bagaimana dengan perilaku pengguna barang sederhana? Coba saja Anda amati sendiri, ada saja orang yang enggan melepas sarung plastik pada kursi kantor yang baru didapatkannya. Panas atuh, juragan! ….. hahahaha ……